(031) 5968709 Webmail

Kegiatan dakwah adalah upaya yang baik karena dapat menyeru masyarakat pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Namun mengingat ada banyak sekali pemikiran yang berkembang di masyarakat, maka seorang dai tidaklah cukup berbekal niat yang baik, namun juga harus betul-betul memerhatikan bagaimana agar pesan dakwahnya dapat menjaga persatuan dan keharmonisan di tengah masyarakat.

Dalam ilmu komunikasi dakwah, itulah yang dikenal sebagai “komunikasi dakwah moderasi”, atau suatu bentuk komunikasi yang menekankan pada toleransi, anti kekerasan, komitmen keagamaan, dan akomodatif terhadap budaya lokal.

Oleh karenanya, mengingat pentingnya penguasaan ilmu komunikasi dakwah moderasi, STID Al-Hadid sebagai kampus yang mencetak calon-calon tenaga ahli dakwah, memiliki tanggung jawab moral untuk membekalkan pengetahuan tersebut kepada para mahasiswanya dan juga kepada masyarakat secara luas. Dan komitmen ini direalisasikan melalui seminar nasional yang diselenggarakan pada Sabtu (23/5/2026) yang lalu.

Podium pembicara seminar nasional 2026 STID Al-Hadid

Sesi registrasi peserta seminar nasional 2026 STID Al-Hadid

Sesi registrasi peserta seminar nasional 2026 STID Al-Hadid 

Hall acara seminar nasional 2026 STID Al-Hadid

Undang Guru Besar Bidang Ilmu Komunikasi dari UIN Walisongo, Semarang

Bertajuk “Inovasi Komunikasi Pesan Dakwah Moderasi Beragama dalam Membentuk Religiusitas di Ruang Pendidikan dan Sosial Masyarakat”, STID Al-Hadid dalam kesempatan tersebut mengundang secara khusus dua orang pembicara yang memiliki kompetensi di bidang ilmu terkait. Bahkan salah satu pembicara merupakan seorang Guru Besar yang memiliki kedalaman keahlian pada bidang ilmu komunikasi dakwah. Beliau adalah Prof. Dr. Najahan Musyafak, M.A., CAH.

Dalam pemaparan profil pembicara yang disampaikan oleh moderator seminar, Prof Dr. Najahan diketahui merupakan Guru Besar Bidang Ilmu Komunikasi di UIN Walisongo, Semarang. Berdasarkan riwayat pendidikan, beliau juga diketahui menempuh pendidikan di universitas-universitas ternama, di antaranya yakni: menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Dakwah UIN Walisongo, Semarang; lulusan Magister di University of South Australia, Adelaide; dan meraih gelar Doktoral dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sedangkan untuk pembicara ke-2, STID Al-Hadid juga menghadirkan salah seorang dosen yang menggeluti bidang ilmu komunikasi dakwah. Beliau yakni, Dr. Agung Teguh Priyanto, M.Kom.I., yang juga merupakan pengajar dari program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) STID Al-Hadid.

Jajaran Pengurus STID Al-Hadid bersama Prof. Dr. Najahan Musyafak, M.A., CAH. (Guru Besar UIN Walisongo, Semarang)

Sambutan dari Ketua STID Al-Hadid (Dr. Mainumah, S.Psi., M.Kom.I.)

Pembicara ke-2: Bpk. Dr. Agung Teguh Priyanto, M.Kom.I

Opening Speech dari Ketua Prodi KPI (Bpk. Yudi Asmara, S.Kom.I., M.Ag.)

Diikuti Oleh Ratusan Mahasiswa dari Jawa, Madura, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi

Seminar nasional yang diselenggarakan sejak pukul 09.00 WIB di hall lantai 4 gedung STID Al-Hadid itu cukup semarak, karena diikuti oleh 232 mahasiswa, dosen STID Al-Hadid, serta 43 orang (dosen, akademisi, dan praktisi) dari luar STID Al-Hadid. Bahkan para peserta tersebut tidak hanya dari Surabaya saja, namun juga berasal dari luar Surabaya, seperti: Jawa Timur, Sumatra, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan juga Maluku yang mengikuti seminar secara online. Di samping itu, beberapa jajaran civitas akademika STID Al-Hadid mulai dari: Ketua Yayasan Al-Kahfi, Ketua STID Al-Hadid, Ketua Program Studi, serta Pembantu Ketua, juga turut hadir dalam acara seminar yang diadakan secara semi-online tersebut.

Peserta seminar nasional 2026 STID Al-Hadid

Peserta seminar nasional tengah fokus menyimak materi

Peserta seminar nasional tengah fokus menyimak materi

Peserta seminar nasional tengah fokus menyimak materi

Sampaikan Pentingnya Komunikasi Dakwah Moderasi, Strategi Implementasi, Serta Tantangannya

Dalam durasi selama kurang lebih 30 menit, dari materi berjudul “Strategi Komunikasi Pesan Dakwah Moderasi Keagamaan di Universitas Negeri” yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Najahan, peserta seminar nasional pada hari itu mendapatkan banyak sekali ilmu baru terkait komunikasi dakwah moderasi. Seperti pada bab pengantar, di mana beliau menguraikan banyaknya persoalan intoleransi dalam ruang digital. Di samping itu, beliau juga menyinggung tentang realitas hari ini, di mana kebenaran lebih banyak didasarkan pada jumlah subscribe dan like dari netizen dibandingkan pada fakta/bukti. Dalam istilah ilmiah, beliau menyebut era tersebut sebagai Post-Communication Era.

Pada bagian isi pembahasan, paparan materi seminar dari Prof. Najahan juga tak kalah menarik. Di samping menjelaskan dengan konkret terkait yang dimaksud dengan komunikasi dakwah moderasi”, beliau juga memaparkan sejumlah tantangan penerapan komunikasi dakwah moderasi pada hari ini beserta strategi implementasinya. Dan pada bagian penutup, beliau juga menitipkan sejumlah pesan yang menyejukkan, di antaranya yakni dengan mengatakan: “Moderasi itu tidak hanya soal menyampaikan pesan dakwah, tapi juga bagaimana menciptakan peradaban yang damai/harmoni sosial…. Moderasi beragama itu juga bukan melemahkan keyakinan, tetapi justru membangun kemanusiaan.”

Sementara dari pembicara ke-2, peserta seminar nasional juga mendapatkan ilmu baru yang yang tak kalah pentingnya, yakni mengetahui tentang contoh konkret komunikasi dakwah moderasi yang berupa syiir (red: syair yang berisi nasihat dan ajaran agama). Atau tepatnya, yakni sebuah syiir bernama “Syiir Tanpo Waton/Syiir Tanpa Batas” (atau juga dikenal dengan nama “Selawat Gus Dur”) yang diciptakan oleh Gus Nizam, pengurus salah satu pondok pesantren di Sidoarjo, Jawa Timur. 

Dalam penelitian berjudul “Strategi Komunikasi Pesan Dakwah Moderasi Keagamaan Lewat Pendekatan Syiir (Studi Kasus Jamaah Taklim Surabaya dan Jombang)” yang juga merupakan hasil disertasi beliau, Dr. Agung Teguh memaparkan banyak hal terkait Syiir Tanpo Waton tersebut, mulai dari: latar belakang diciptakannya syiir, konsep dasar syiir dalam dakwah, bentuk/isi Syiir Tanpo Waton, cara bekerjanya Syiir Tanpo Waton pada objek penelitian (2 kelompok pengajian ibu-ibu), efek dari Syiir Tanpo Waton kepada jamaah, hingga penemuan-penemuan lain yang ditemukan oleh beliau saat dilakukannya penelitian.

Secara ringkasnya, dari penelitian beliau tersebut mengungkap bahwa syiir yang diciptakan karena dilatarbelakangi adanya kelompok yang suka mengafirkan itu, dibuat guna mengajak umat untuk saling hidup rukun dan jangan saling mengafirkan. Syiir Tanpo Waton ini sendiri disampaikan dalam bentuk syair puji-pujian yang mana dilantunkan secara terus-menerus pada setiap sebelum menjalankan ibadah salat fardu di masjid/musala. Dan hasilnya, jamaah kelompok pengajian ibu-ibu yang menjadi objek penelitian, secara menyeluruh dapat menerima hadirnya Syiir Tanpo Waton. Terlebih ketika mendengar warna suara Gus Nizam sebagai pelantun syiir yang juga hampir mirip dengan suara Gus Dur, semakin membuat syiir tersebut lebih mudah untuk diterima dan diresapi pesannya oleh kelompok pengajian ibu-ibu. Di samping itu, sebagian anggota pengajian ibu-ibu yang notabene memiliki background aliran lain seperti dari: Muhammadiyah, PKS, dan Salaf, juga bisa menerima dan tidak mempersoalkan adanya Syiir Tanpo Waton tersebut.

Prof. Dr. Najahan tengah memaparkan materi seminar

Dr. Agung Teguh tengah memaparkan materi seminar

Menjadi Mahasiswa yang Moderat, Bukan Hanya Untuk Diri Sendiri, Namun Juga untuk Masyarakat

Sepanjang acara seminar berlangsung, hampir seluruh peserta tampak fokus menyimak paparan materi demi materi. Terlebih mengingat topik materi yang sangat menarik, padat, dan berisi tersebut, membuat para peserta bahkan seakan tak ingin melewatkan pandangannya barang sedetikpun dari para pembicara. Belum lagi saat sesi tanya jawab dibuka, peserta langsung berbondong-bondong mengangkat tangannya untuk mendapatkan kesempatan bertanya.

Melihat antuasiasme peserta yang cukup besar tersebut, Prof. Najahan dalam sesi interview dengan tim media dan pemberitaan menyampaikan apresiasinya terhadap seminar nasional yang diselenggarakan oleh STID Al-Hadid pada hari itu. Utamanya, beliau memberikan apresiasi pada aspek tema yang diangkat pada seminar pagi itu.

“Yang pertama kaitannya dengan tema ya, tema hari ini tema yang cukup kontekstual di tengah persoalan umat, persoalan masyarakat, kaitannya dengan dakwah Islam. Dakwah Islam hari ini kan mendapatkan tantangan yang cukup serius di masyarakat terkait dengan bagaimana dakwah itu dakwah yang santun, dakwah yang ramah, dakwah yang edukatif. Maka seminar ini akan mengingatkan kembali, me-refresh kembali, mengaktualisasikan kepada masyarakat untuk berpikir ulang, melakukan re-orientasi terhadap gerakan-gerakan dakwah yang lebih memenuhi kebutuhan masyarakat.” 

Dan di samping memberikan apresiasinya terhadap acara seminar nasional tersebut, Prof. Najahan pada sesi akhir wawancara juga menyampaikan pesan-pesannya kepada peserta seminar, khususnya kepada mahasiswa STID Al-Hadid terkait penerapan komunikasi dakwah moderasi.

“Yang pertama, bagaimana mahasiswa menjadi mahasiswa yang moderat, itu penting, karena apa, karena ini menjadi modal dasar bagi mahasiswa dalam langkah untuk mengimplementasikan secara kaffah konsep Islam terhadap diri sendiri. Baru kemudian, yang kedua, kita terapkan di dalam ranah Tri Dharma perguruan tinggi, dalam pendidikan, bagaimana berkuliah, bagaimana mencari ilmu itu, kemudian dalam penelitian, juga di dalam pengabdian masyarakat. Nah di sinilah kemudian rata-rata mahasiswa biasanya hanya menjadi menara gading. Tapi hari ini, menjadi sebuah kewajiban bagi mahasiswa untuk tidak hanya menjadi diri sendiri sebagai orang yang moderat, tapi juga harus kepada masyarakat. Di sinilah kemudian tantangan bagi mahasiswa ke depan dalam rangka untuk bisa mengimplementasikan konsep-konsep moderasi beragama di masyarakat. Masih cukup banyak ruang, masih cukup banyak peluang, dan masih cukup banyak juga masyarakat yang belum memahami tentang moderasi beragama.”

Sesi tanya jawab tengah berlangsung

Peserta seminar full online dari Lampung, sedang bertanya kepada Prof. Najahan

 Antusiasme peserta saat sesi tanya jawab

Pemberian cendera mata untuk peserta dengan pertanyaan terbaik pilihan pembicara